Sama banget ma kondisi gw sekarang minus kenyataan klo kakang infertil. Klo kehidupan gw, wildan baik-baik ajah dan gw yg bermasalah dengan hormon. Tokohnya adalah Kakang (uh i love this nick name) dan Neng, yg sudah 7 tahun menikah tapi belum dikaruniai anak. Kakang berprofesi sebagai psikolog pernikahan sedangkan Neng berprofesi sebagai pengacara perceraian, sangat kontradiksi. Mengenai kehadiran seorang anak, sangat jelas dalam cerita ini, bagaimana masyarakat ato lingkungan keluarga terdekat maupun keluarga besar begitu mengganggu dengan pertanyaan KAPAN PUNYA ANAK.
Kelakuan Kakang, yg notabene adalah kelakuan kaum laki-laki, membuat gw bisa ngeliyat jauh kedalam hati laki-laki bahwa mereka musti menekan perasaan untuk menenangkan sang perempuannya. Kadang gw suka berargumen dengan wildan klo dia suka males nganterin gw beli test pack ato kontrol ke dokter, ternyata alasannya hampir sama dengan Kakang. Dia gak mau gw depresi dan begitu mendramatisir hasil test pack ato diagnosa sang dokter.
Trully, the way men treat us, his lady, is so sweet, but some times we are using " kaca mata kuda " to see it.
Sayangnya, mungkin karena modernisasi dan gaya, bahasa inggris mendominasi percakapan didalam novel ini. Gw lebih seneng novel ini dengan gaya bahasa Indonesia ato bahasa tradisional sunda ato jawa, sangat lokal sekali yg mana itu mulai jarang di buat oleh pengarang-pengarang muda Indonesia.
Ending novel ini begitu menyentuh, bahwa ikatan - komitmen suami/istri bisa membuat kita kuat menghadapi segala macam badai dalam pernikahan, because both of you want to . . .